12 Februari 2012

Hujan

Insya Allah semua kenal dengan hujan. Air yang turun dari langit. Berupa butiran – butiran. Bisa deras atau rintik – rintik. Yang jelas dingin rasanya. Ia berasal dari sekumpulan awan. Dan awan terbentuk dari penguapan air, umumnya air laut, karena sinar matahari. Uap air naik dan kemudian terbawa oleh angin. Berkumpul jadi awan dan selanjutnya turun ke bumi sebagai hujan. Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. (QS al-A’raf 57). 

Hujan adalah rohmat. Siapapun tak memungkirinya itu. Tapi bagi kebanyakan kita yang sering menyaksikan atau menerima hujan, apalagi di musim hujan, melihatnya pasti biasa saja. Ia tak lebih dari peristiwa alam. Bahkan ada yang berkeluh kesah karena hujan. Sebab banjir dan becek, sehingga menghambat aktivitas. Berbeda dengan daerah yang jarang hujan. Seperti di gurun atau lama tidak hujan. Musim kemarau. Panas yang terik. Nah, hujan adalah hal yang ditunggu – tunggu. Penuh harap dan terasa sekali aroma rohmatnya. Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka: "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami." (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih, (QS al-Ahqof 24) Kadang hujan disertai dengan angin yang kencang. Banyak pepohonan yang tumbang. Banyak rumah yang ambruk atau atapnya terbang. Menyebabkan tanah longsor, banjir bandang dan lainnya. Maka terus ada istilah angin puting beliung, angin bahorok, ole – ole, tornado dsb. Hujan pun bisa menjadi bencana. Hujan bukan sebagai rohmat lagi, tetapi menjadi mushibah. Namun kalau dibandingkan, dengan cara menghitung tentu kita akan tahu, banyak mana hujan sebagai rohmat atau hujan sebagai bencana? Tentu jawabnya adalah yang pertama, yaitu hujan sebagai rohmat. Ayat – ayat pun dengan jelas dan banyak, berkali – kali menyebutkan kerohmatan hujan dibanding bentuk siksa atau bencana. Sayangnya banyak dari kita yang tidak menyadarinya. Bahkan melupakan dan menyepelekan rohmat ini. Ada lagi malah yang mengutuk, sial hujan lagi, katanya. Naudzubillah. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu). (QS al-Anfal 11). 

Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. (QS ar-Rum 48) Insya Allah setiap kali hujan, saya selalu berucap syukur; Alhamdulillah hujan. Saya berusaha untuk terus mensyukurinya. Bergembira. Dan sebisa mungkin menghindar untuk mencerca atau mengingkarinya. Sampai beberapa hari yang lalu, saya benar – benar merasakan rohmat hujan ini. Malam itu hujan deras sekali, tapi saya sudah tertidur. Nah, ketika bangun hujan masih mengguyur. Terus, ketika pergi ke kamar mandi ternyata air di bak kosong. Sudah begitu, pompa ternyata ngadat. Nggak keluar air. Akhirnya saya lempar ember di bawah talang rumah. Tak berapa lama penuh dan saya angkat ke kamar mandi. Untuk wudhu dan sekalian mandi pagi itu. Huh, mak nyess,,,, dingin dan segar luar biasa. Seperti yang disebut dalam ayat quran maa’an thohuuroon. Dan saya pun teringat dengan doa yang setiap saat saya lantunkan, yang isinya meminta kepada Allah untuk mencuci dosa dan kesalahan saya bilmaa’i wats-tsalji walbarod - dengan air, salju dan embun yang dingin. Mandi air hujan saja luar biasa, bisa membersihkan bolot/daki dan kesegaran yang wah, apalagi jika dosa tercuci dengan air salju dan embun yang dingin. Subhanallah…! Rohmat, tetaplah rohmat. Jangan jadikan dia adzab, karena ketidakpedulian kita, sehingga Allah pun mengiyakannya. Rugi kan? 

Oleh :Ustadz.Faizunal Abdillah

0 comments:

Poskan Komentar